Opinion
OPINIATOR
/ THE PHILOSOPHIA
Kaum Muda Jepang dalam Seijin no Hi
By
THAUFAN MALAKA
Published:
January 18, 2012Menuliskan kisah pemuda akan menghadirkan harapan revolusioner. Harapan yang aktif menggeliat, seperti filosofi “becoming” dari Eric Fromm (pemikir kritis-humanis), yang menghadirkan dinamisasi rasa dan aksi manusia untuk mencintai dan dicintai, menghargai dan dihargai, serta menyayangi dan disayangi di semesta raya.
Tulisan
ini ingin memaparkan kisah haru-biru para pemuda di Jepang yang baru saja
melewati hari libur nasional di Jepang yaitu Seijin no Hi pada Senin,
09/01/2012. Di Jepang, lazimnya setiap Senin kedua di bulan Januari para pemuda
yang menginjak usia 20 tahun (hatachi) akan berkumpul untuk merayakan
hari libur Seijin no Hi sebagai momentum menuju kedewasaan dan
kematangan hidup.
Tak ayal di sekeliling kota di Jepang termasuk Tokyo, Yokohama, dan Nagoya terlihat para pemuda dengan bangga beramai-ramai berjalan kaki mengenakan pakaian tradisional Jepang.
Perempuan tampil cantik menawan menggunakan sejenis Kimono yang disebut Furisode dipadukan dengan sandal Jepang yang dinamai Zori, sedang pria memakai sejenis kimono gelap yang dikenal sebagai Hakama. Namun sebagai buah dari kemodernan Jepang, banyak juga para pemuda pria yang memakai jas modern dipadukan dengan dasi.
Tak ayal di sekeliling kota di Jepang termasuk Tokyo, Yokohama, dan Nagoya terlihat para pemuda dengan bangga beramai-ramai berjalan kaki mengenakan pakaian tradisional Jepang.
Perempuan tampil cantik menawan menggunakan sejenis Kimono yang disebut Furisode dipadukan dengan sandal Jepang yang dinamai Zori, sedang pria memakai sejenis kimono gelap yang dikenal sebagai Hakama. Namun sebagai buah dari kemodernan Jepang, banyak juga para pemuda pria yang memakai jas modern dipadukan dengan dasi.
Perayaan
Seijin no Hi ini dikenal sebagai Seijin-shiki ketika para pemuda yang
telah mengenakan pakaian tradisional Jepang berkumpul di pagi hari untuk
mendengar pidato formal dan sosialisasi tentang “cara menjalani masa muda” di
gedung pemerintah setempat.
Momentum
ini juga menjadi tanda yang mengindikasikan bagi setiap pemuda Jepang bahwa
mereka telah boleh mengikuti Pemilu, meneguk minum-minuman keras, dan mengisap
rokok di tempat yang diperbolehkan.
Para
pemuda Jepang sangat menikmati perayaan ini dan terlihat riang-gembira. Mereka
menjadikan perayaan ini sebagai saat tepat membangun resolusi di masa muda.
Misalnya Miura, salah seorang di antara kerumunan gadis yang merayakan Seijin-shiki,
ketika ditanya tentang keinginannya di usia seperti ini, dia menjawab ingin
bekerja (Shigoto).
Seijin-shiki
dapat dilihat sebagai fenomena kebudayaan di Jepang ketika para pemuda
diberikan ruang untuk berkontemplasi dalam suasana yang menyenangkan untuk
menjadi pribadi yang rasional, disiplin, pekerja keras, dan mencintai tradisi
Jepang.
Walaupun,
mereka cenderung terlihat hedonistis dengan berdandan mewah dan
bersenang-senang, namun sesungguhnya keceriaan mereka dalam perayaan Seijin-shiki
merepresentasikan performance ekonomi Jepang yang berkilau, yang memberikan
mereka keleluasaan dan kesenangan untuk melukis mimpi dan imajinasi masa depan
dalam meraih kehidupan yang lebih baik. Sebab mereka adalah generasi muda
Jepang yang memiliki akses ekonomi yang luas dan akan menjadi generasi
produktif, pekerja keras, andal, dan profesional untuk membangun negeri Sakura.
Imajinasi
masa depan kaum muda di Jepang dapat dilihat dari fakta bahwa negara maju
dengan usia produktif (15-64 tahun) yang cenderung menurun 1,02% (844.000 orang
) pada 2009 adalah salah satu negara termakmur dengan perekonomian terbesar di
peringkat ke-2 dunia setelah Amerika Serikat, dengan pencapaian PDB Nominal
sekitar US$ 4,5 triliun dan perekonomian terbesar ke-3 dunia setelah AS dan RRC
dalam keseimbangan kemampuan berbelanja di 2008.
Jepang
juga memiliki standar hidup yang tinggi di peringkat ke-8 dalam Indeks
Pembangunan Manusia dan upah kerja per jam tertinggi di dunia.
Bagaimana
dengan di Indonesia? Di Indonesia, para pemuda cenderung didefinisikan secara
ideologis dan tunduk pada kekuasaan politis. Secara ideologis, pemuda Indonesia
diterjemahkan hanya secara historis sebagai peletak dan penggerak revolusi
kemerdekaan, ketika mereka berkumpul dari berbagai pulau di nusantara dan
bersumpah setia pada 28 Oktober 1928 untuk bertanah air, berbangsa dan
berbahasa Indonesia.
Walaupun
imajinasi pemuda Indonesia diperbaharui setiap tanggal 28 Oktober sebagai hari
Sumpah Pemuda, tetapi peran mereka di masa sekarang hilang dan hanya sebagai
komoditas politik.
Disorientasi para pemuda Indonesia yang cenderung hedonistis dan akhirnya
apatis dengan arah bangsa disebabkan oleh pelemahan karakter pemuda oleh
kenaifan struktur kekuasaan dan kebijakan politis. Alih-alih memperjelas dan
membangun karakter pemuda dengan penalaran yang jernih serta akses yang baik
dan merata, status konstitusional saja menjadi problematik.
Dalam
Undang-Undang Nomor 40/2009 tentang kepemudaan jelas mengartikan pemuda mulai
usia 16 hingga 30 tahun, namun dalam UU Nomor 23/3003 tentang Perlindungan anak
menyatakan usia di bawah 18 tahun masih dikategorikan anak-anak.
Celakanya,
UU Pemilu malah menyeruduk dengan mengikutkan usia 17 tahun dalam Pemilu tanpa
ada kejelasan apakah di usia itu masih anak-anak atau telah menjadi pemuda. Hal
ini bukan hanya harus diperjelas demi keadilan tetapi juga karena masa muda
harus disadari dengan penuh tanggung jawab dan bukan komoditas politik sehingga
menjadi karakter pemuda Indonesia.
Lebih
jauh, sudah seharusnya pemuda didefinisikan berdasarkan kehendak zaman mereka,
keberlanjutan sejarah, dan peran mereka dalam orientasi hidup yang jelas.
Negara pun selayaknya telah menyediakan akses ekonomi yang luas agar menjadi
imajinasi ruang kreativitas dan profesionalitas mereka kelak.
Mungkin
dengan cara ini, hari Sumpah Pemuda akan dirayakan pemuda Indonesia lebih
bermakna seperti imajinasi Kaum Muda Jepang dalam Seijin no Hi sebagai titik
kembali menjadi rasional, disiplin, pekerja keras, dan mencintai tradisi.