
09/09/09
PKM
Tadi saya mengunjungi pusat kegiatan mahasiswa. Saya melihat pohon kertas, pameran buku dan mahasiswa berseliweran. Semoga kreativitas mahasiswa tak pernah berhenti.
Masjid Nurul Ilmi
Saya menghabiskan waktu di Masjid Nurul Ilmi. Selepas Ashar aku beranjak pulang. Sebab siapa pun harus pulang.
Buka Puasa
Kemarin buka puasa bersama Kaki Lima Institute. Saya didaulat menjadi pembicara pasca buka puasa tentang puasa dan solidaritas social. Sederhana, saya ungkap bahwa puasa harus membebaskan manusia, lebih empatik dan mengembalikan kepada kesederhanaan.
Diskusi menjadi dinamis. “Buka puasa kok di hotel mewah. Ini kan mengacaukan tujuan puasa untuk empati dengan kemiskinan structural. Buka puasa menjadi budaya pop, ungkapnya.” Sebuah pertanyaan yang memancing nalar kritis semua peserta diskusi hingga menyerempet ke teori kelas Marx, siklus peradaban Khaldun dan Hegemoni Gramski.
Saya mengapresiasi diksusi kali ini. It ‘s yes man!
Negeri 5 Menara
Kemarin aku ke Gramedia untuk sebuah novel karya A. Fuadi, Negeri 5 Menara. Novelnya mengalir seperti sungai Nil. Saya membacanya dengan kenikmatan. Mungkin karena alurnya berlatar klasik di sebuah Pesantren Modern. Membacanya mengingatkan saya akan masa silam di sebuah Pesantern Kecil di Sulawesi Selatan, DDI Mangkoso Barru. Karakter tokoh pun serasa merasuk ke dalam diri.
Aku menyantap hidangan novel Fuadi, Negeri 5 Menara seraya bergumam, “Aku hendak menjadi.” Rencana aku ke depan, sederhana, ingin menulis novel juga. Man Jadda Wajada. Amin Ya Rabbal Alamin
I,m in the Night
if you believe in something, whole universe will conspire in your favor
02/10/09
Pram dan Harapan Aku
Aku mencintai Pram sehingga menyimak nasehat besarnya dengan bajik. “Menulislah demi keabadian, katanya.” Maka aku pun mencoba menulis sejak detik ini hingga maut menjemputku. Aku persembahkan sedikit kesadaranku untuk keabadian dan peradaban masa depan. Semoga semua harapan menubuh, memiliki tangan dan kaki di zaman anak-anakku.
Gempa Bumi Sumatra Barat
30 September 2009 gempa bumi besar dengan kekuatan 7.6 melanda tanah Minangkabau. Gempa ini berpusat di Pariaman dan terasa hingga ke Singapura. Gempa ini memakan korban yang sangat banyak sebab gempa berdurasi lama dan pusat gempa sangat dekat dengan kota-kota besar yaitu kota Pariaman dan kota Padang.
Sore itu di perumahan dosen, saya berdiskusi di ruang tamu bersama Fe dan Anton. Kami berencana mengadakan diskusi tentang upaya membangun tradisi kritis di Fisip Unand minggu ini. Tiba-tiba serasa atap rumah dihinggapi puluhan burung manyar. Rumah perlahan bergetar pelan dan makin intensif. Kami pun menuju halaman rumah dan melihat pepohonan tua melambai seperti ditiup badai Katrina. Di depan mata kami, bangunan Universitas Andalas dengan tiang dan dinding dari beton retak dan terburai. Sore menyisakan trauma bagi mahasiswa. Malam hari ribuan mahasiswa dievakuasi ke mesjid kampus.
Sementara di kota Padang, Pasar Raya ambruk dan terbakar saat banyak manusia berkumpul. Puluhan terhimpit dan meninggal. Di beberapa pusat belajar seperti Gama dan LIA pun siswa-siswi tertimpa bangunan dan meninggal. Di kabupaten Pariaman, 300 orang tertimbun longsor. Hotel Ambacang hancur dan menimbun banyak orang, hotel Inang Muara dan Bumi Minang pun rusak. Korban makin lama makin banyak di kota Padang dan kota kabupaten Pariaman.
Singkatnya, Infrastruktur kantor, rumah, sekolah dan jalan rusak dan melumpuhkan semua sektor. Banyak korban manusia dan kerusakan infrastruktur. Proses penanggulangan bencana harus menjadi prioritas dan humanis. Dan yang terpenting, setelah musibah diatasi secara tepat dan serius haruslah melihat ke depan. Ini harus menjadi momentum kemanusiaan dan peradaban baru bagi masyarakat Sumatra Barat. Semua harus terlibat dalam berdoa dan membantu masyarakat Sumatra Barat. Semoga Allah menganugerahkan kesabaran dan kekuatan kepada masyarakat Sumatra Barat. Amin Ya Rabbal Alamin
Potret Kacamata Metro TV
Malam hari setelah gempa, aku menyimak berita Metro TV seputar gempa bumi di Sumatra Barat di sebuah bengkel Tempel Ban. Sudut pandang berita Metro TV mengaduk-aduk rasa kemanusiaan.
Jepang bersatu: Nobunaga, hedeyoshi, tokugawa ieyasu
Lima Cincin Miyamoto Musashi
Buku kecil ini dahsyat, mengungkap rahasia Bumi, Air, Angin, Api dan Kekosongan. Buku ini ditulis oleh seorang Samurai hebat yang hampir tak pernah terkalahkan dan menemukan kebijaksanaannya dalam jalan samurai, jalan seni bela diri. Dia berpesan kepada para muridnya:
• Jangan memunggungi beragam jalan yang ada dunia.
• Jangan menginginkan kenikmatan fisik.
• Jangan berniat mengandalkan apa pun.
• Pikirkan diri sendiri secara ringan dan pikirkan dunia secara mendalam.
• Jangan pernah berpikiran tamak.
• Jangan menyesali hal-hal yang terjadi dalam kehidupan pribadi.
• Jangan iri akan kebaikan atau kejahatan orang lain.
• Jangan meratapi perpisahan di jalan mana pun untuk alasan apa pun.
• Jangan mengeluh atau merasa getir akan diri sendiri atau orang lain.
• Jauhi perasaan saat memasuki jalan cinta.
• Jangan pilih kasih.
• Jangan memiliki harapan untuk punya rumah pribadi.
• Jangan memiliki kesukaan akan makanan lezat bagi diri sendiri.
• Jangan menyimpan barang antik warisan dari generasi ke generasi.
• Jangan berpuasa hingga merusak fisikmu.
• Kecuali perlengkapan militer, jangan menyukai benda-benda duniawi.
• Saat berada di jalan, jangan menyesali kematian.
• Jangan berniat memiliki barang berharga atau tanah di masa tua.
• Hormati Dewa dan Buddha tetapi jangan tergantung kepada mereka.
• Meski kau menyerahkan nyawa, jangan serahkan kehormatanmu.
• Jangan pernah memisahkan diri dari jalan seni bela diri.
Hari kedua bulan kelima, tahun kedua soho 1645
Shinmen Musashi
Gerakan Ganda Fazlur Rahman
Seorang pemikir Islam yang tangguh harus memiliki pemikiran yang hebat. Dia, Fazlur Rahman, boleh lah menjadi spirit intelektual bagi kita. Dia merumuskan orisinalitasnya dalam metode kritik sejarahnya, metode penafsiran sistematis dan gerakan ganda (a double movement).
Kritik sejarah Rahman berupaya menemukan nilai-nilai dalam sejarah. Boleh jadi maksud Rahman adalah maksud Mutahhari ketika memaknai sejarah ilmiah sebagai upaya menemukan aturan dan tradisi dari sejarah manusia.
Metode penafsiran sistematis beranjak dari menemukan makna teks Alquran dari histori hidup Muhammad, menemukan legalitas teks dan tujuan Islam, dan merelavansikan tujuan Islam dengan latar sosio-kultural.
Metode ketiga Rahman disebut gerakan ganda. “A double movement is movements from the present situation to Quranic time, then back to the present.” Mode intelektual yang melihat kondisi hari ini dengan merujuk kepada prinsip sejarah Qurani dan memecahkan masalah dengan prinsip ini.
Akhirnya, Rahman menyarankan intelektual muslim menemukan pandangan dunia Tauhid dan merumuskan Etika Qurani dari Pandangan Tauhid ini dan Membumikan Etika Qurani ini dalam masyarakat.
Membaca Islam secara Intelektual menjadi keharusan untuk menemukan etika Islam yang sejati. Ini lah yang membawa Ismail Raji Al-Faruqi dan Naquib Al-Attas mendorong Islamization of Knowledge, Arkoun mengusung Dekostruksi untuk menemukan makna sejati Islam, Abid Al-Jabiri menggugat kritik nalar Arab untuk keluar dari romantisme kronis agar menjadi kritis demi menemukan makna progresif Islam.
Wajarlah, Fazlur Rahman menjadi guru para intelektual pembaharu Indonesia semisal Cak Nur, Buya Syafii Maarif dan Negarawan Amin Rais.
Cahaya Suhrawardi
Siapa yang tak tak takjub dengan cahaya Suhrawardi. Ibarat mentari yang menyinari bumi, Ia pun adalah mentari yang menyinari para filsuf dan teosof.
Filsafat cahaya Suhrawardi mengombinasikan intuisi dan diskursif. Filsafatnya meyakini fundamentalnya esensi cahaya. Realitas cahaya tertinggi disebut Nurul Anwar yaitu Allah yang bergradasi memancarkan cahaya murni dan beremanasi lagi menjadi cahaya-cahaya dengan gradasi yang lebih rendah.
Filsafat cahaya menjadi pilihan dalam memahami realitas metafisika.