29 Desember 2011

Cerpen: Bengkel Ketujuh

Rabu sore pukul 17.15 burung-burung mungil berkicau merdu di dahan-dahan pohon Cherry sebuah rumah kontrakan, di pinggir kampus Universitas Viktoria Padang. Stefan, Fetriks dan Ali sedang mendialogkan hidup di ruang tamu. Pukul 17.16 lamat-lamat Stefan merasa berpuluh-puluh burung Merpati hinggap di atap. Rumah berderik kecil dan mulai bergetar eskalatif per detik. Stefan refleks keluar ke halaman rumah dan menatap langit. Ia penuh risau menyaksikan dinding-dinding rumah dan gedung kampus dari beton retak terburai. Pepohonan tua melambai seolah ditiup topan Katrina. Ia berdoa dalam hati. ”Ya Allah Yang Maha Besar, semoga ini belum kiamat. Rasanya pepohonan dan gedung-gedung hendak berterbangan menimpa kami.” Stefan bermain dengan imajinasi psikologisnya.
Gempa bumi terasa lebih lama dalam cemas Stefan. Gempa perlahan berhenti. Fetriks dengan cepat menelpon kekasihnya. Namun tak ada jaringan. Dia kali ini galau. Ia pun bergegas menancap gas motor menuju rumahnya. Sedang Ali tertunduk dan berkata, ”semoga keluarga ambo di Padang Panjang selamat.” Stefan terdiam mendengar pinta Ali. Stefan menata kesadaran atas peristiwa barusan yang mengguncang kemanusiaannya.
5 jam setelah gempa...Malam dingin di pukul 22.00 membuat perut Stefan dan York lebih cepat keroncongan. Mereka pun bergegas menembus gerimis hujan mencari warung nasi. Walau lampu mati, malam sangat ramai tak seperti biasanya. Mobil-mobil diparkir di pinggir jalan, tenda-tenda kecil menghiasi depan rumah dan orang-orang banyak mengobrol di jalan-jalan. Setelah menerobos gelap malam, mereka dapati satu-satunya warung nasi yang buka dengan penerangan lampu genzet. York berkata, ”warung penuh sesak pengunjung Fan.” Stefan menimpali, ”Ga ada tempat lain York.” Mereka kemudian masuk dan memesan menu rendang, ikan bakar dan ditambah jus mangga. Menu yang enak tapi hambar di lidah mereka yang diliputi sisa ketakutan kecil pasca gempa sore tadi.
Setelah mereka selesai makan, hujan makin lebat. Mereka menambah topik pembicaraan seputar gempa yang mencekam. ”Fan liat ga bukit longsor di seberang kampus?” tanya York. ”Mataku tak jelas melihat kejauhan di senja hari York,” jawab Stefan. ”Tapi Aku tahu dengan instingku, gempa bumi sekuat sore tadi pasti meruntuhkan gunung-gunung rawan dan infrastruktur tua di kota Padang,” tambah Stefan. York kembali berucap, ”dari zona helypad kampus terlihat sore tadi kota Padang berasap tebal. Pasti ada kebakaran juga.” ”Iya York,” jawab Stefan seraya berdiri membayar kasir. Mereka berdua beranjak ke motor. Di luar perkiraan, hujan makin lebat. Mereka sepakat berteduh bersama orang-orang yang juga menunggu hujan reda. Karakter hujan tak menentu. Kadang gerimis, lalu hujan keras dan gerimis lagi. Mungkin hujan adalah isyarat kesedihan langit terhadap puluhan bahkan ratusan korban akibat gempa yang dahsyat meluluhlantakkan kota Padang. Tak berapa lama hujan mereda. Mereka beranjak ke arah kampus lagi menjauh dari pusat keramaian manusia.
2 hari kemudian setelah gempa..Terik mentari siang kota Padang menyinari proses evakuasi korban-korban yang terjebak di hotel-hotel megah berbintang lima, lembaga-lembaga bimbingan belajar dan bangunan-bangunan tua di Pasar Sentral. Program Breaking News stasiun televisi benar-benar mengaduk perasaan. Stefan dan Dicky berkeliling di jantung kota Padang. Stefan melihat gereja retak, masjid ambruk, dan toko-toko rata dengan tanah. Stefan menancapkan matanya pada setiap sudut kota yang remuk. Gempa berkekuatan 7,9 Skala Richter menyisakan kesedihan mendalam dan keindahan yang terkoyak di bumi Andalas.
Di sebuah tikungan jalan menuju pendopo kota, Stefan melihat tiga wartawan meliput sebuah bangunan yang hancur. Dua wartawan keluar dari lokasi bencana dengan mengulum senyum dan yang terakhir, terlihat menahan tangis. Stefan mengenal wartawan itu. ”Bang Okkan, apa kabar,” seru Stefan. ”Hai Fan, baik. Ente tinggal di sini Bro. Aku liputan khusus bencana. Besok kita ketemu lagi.” jawabnya terburu-buru. ”Kota Padang benar-benar menjadi tempat para wartawan membeli berita di antara pergulatan optimisme dan pesimisme korban-korban,” gumam Stefan melihat sahabatnya pergi.
7 jam setelah gempa...Motor Stefan dan York melaju dengan kecepatan standar ke arah kampus melewati Pasar Antik. Di kanan-kiri terlihat penerangan obor dan terdengar raungan genzet dari rumah penduduk. Mereka melihat wajah-wajah penuh ketakutan masih bertahan di luar rumah. Suasana kota Padang dan sekitarnya serasa pasca perang. Seolah kolonialis telah menjatuhkan bom atom sehingga rumah-rumah tak berbentuk lagi. Motor mereka melaju hingga menanjak tepat di sebuah pertigaan rumah makan. Tiba-tiba motor melaju miring. ”Ada apa York” tanya Stefan. ”Ban motor kita pecah Fan,” jawabnya. Stefan pun turun dari sadel dan berkata pelan, ”hujan, gelap gulita dan harus mendorong motor menyusuri jalan mencari bengkel tempel ban tepat di pukul 24.00 malam. Apa masih ada yang praktek?” York tersenyum menjawab, ”Semoga harapan tak pernah mati Fan.” Stefan terdiam. Sebenarnya, lelah Stefan tak bisa lagi ditahannya dan ingin segera tiba di rumah. Tapi Ia tak mungkin membiarkan York jalan sendiri mencari bengkel.
Mereka pun mulai mendorong motor. York memegang setir dan Stefan mendorong bokong motor. Meraka perlahan membelah malam dengan kibasan-kibasan angin menumbuk wajah. Mata mereka mencari tempel ban di sisi kanan dan kiri jalan di tengah kecamuk keraguan dan harapan. Gayung tersambut, Wulan pun tiba. Tak berapa lama, mereka menemui sebuah plang bertuliskan tempel ban. ”York, ada bengkel tempel ban,” seru Stefan kegirangan. Mereka melihat sebuah gubuk yang beralih fungsi menjadi bengkel tempel ban seadanya. Mereka mendekati gubuk itu dan melihat hanya cahaya dian tersembul dari dalam. ”Tok...tok...tok,” pintu diketuk York. Seorang Ibu terbangun membuka pintu. ”Bisa tempel ban Bu,” tanya York lembut. Ibu itu menjawab,”maaf Nak, nda ada doh lampu.” York pun memelas , ”Tolong lah Bu. Kami mambana kini.” Ibu itu mengulangi ucapnya, ”Maaf Nak, nda ada doh lampu. Jawaban terakhir yang sama membuat mereka kembali mendorong motor berdua. Malam makin larut dan hujan masih gerimis.
Mereka mendorong motor lebih cepat ke arah Pasar Baru. Mereka harap areal ramai ada bengkel 24 Jam. Perjalanan mereka sejauh satu kilometer pun akhirnya menemukan kembali sebuah plang tempel ban di sisi kanan jalan. Motor diparkir di dekat Stefan dan York cekatan menyeberang jalan menuju bengkel. Dari jauh Stefan memperhatikan York melobi si empunya bengkel. York membalikkan tubuh ke arah Stefan. York dengan wajah menunduk menemui Stefan. ”Gimana York?” tanya Stefan. ”Gak bisa Fan,” jawabnya pelan. Tak ada lagi kata yang muncul di antara mereka. Mereka sama-sama tahu. Alasannya pasti tak jauh berbeda dari bengkel pertama. Mereka kembali menyusuri jalan dengan gontai. Kaki-kaki mereka mulai terasa pegal di tengah gerimis membasahi. Tempel ban ketiga mereka lewati hanya dengan insting pasti bengkel ini tidak bisa membantu. Barulah tempel ban keempat, York merasa bengkel ini yang akan membantu. Bengkel ini adalah bengkel langganan sahabat-sahabat kampusnya. York mendorong motor ke dalam lorong menuju bengkel itu. Stefan terduduk di sebuah kursi melepas risau dan penat. York bertemu dengan pria pemilik bengkel. ”Apa bisa tempel ban pak?” tanya York. ”Maaf, nda bisa adiak. Nda ado doh alat,” jawabnya. Stefan tersentak dari kursi mendengar jawaban pemilik bengkel. ”Tolonglah Pak,” pinta York. ”Nda bisa adiak, Nda ado doh alat, jawabnya lagi. Tepat di bengkel inilah kepasrahan York dan Stefan memuncak dan mulai duduk lebih lama. Malam makin larut dan dingin menusuk tulang. Gerimis tak lelah menumpahkan airnya. Stefan merapatkan mata sekejap. Tanpa suara lagi di antara mereka. York dan Stefan tertidur di kursi beberapa lama.
Rasanya malam ini teramat panjang bagi mereka. Gerimis mereda, mereka terbangun dan melanjutkan perjalanan. Sebenarnya, sempat terpikir oleh Stefan memarkir motor dan mencari Masjid yang masih utuh untuk beristirahat mengingat malam telah larut. Tapi, entah apa yang merasuk ke dalam pikiran mereka sehingga masih mendorong motor. Padahal perjalanan yang mereka telah tempuh mencapai kurang lebih tiga kilometer. ”Apakah akan ditambah lagi berkilo-kilo meter,” gumam Stefan. Dalam perjalanan, mereka berdiskusi. ”Jangan-jangan ada konspirasi tempel ban York,” tanya Stefan. York berkata,” Boleh jadi Fan. Seharusnya walau pasca gempa mereka harus tanggung jawab.”
Mereka mendorong motor dan menemui lagi satu bengkel tempel ban yang berjarak jauh dari sisi kiri jalan. ”Mudah-mudahan inilah bengkel tempel ban sejati,” kata Stefan. York segera berlari menuju bengkel dan bertanya kepada beberapa orang yang berteduh di depan bengkel. Dari jauh Stefan memperhatikan. Tak berapa lama York berbalik menemui Stefan dan berkata lirih, ”Gak bisa Fan.” Mereka refleks mendorong motor mencari kemungkinan-kemingkinan baru di malam ini.
Kira-kira pukul 02.00 malam, berjarak lima puluh meter dari bengkel keenam, mereka pun menemukan bengkel ketujuh. Mereka melihat banyak orang tertidur di luar latar bengkel; seorang Bapak, tiga remaja, tiga gadis dan dua Ibu. ”Mungkin mereka sedang mencari titik aman dari kemungkinan gempa susulan,” pikir Stefan. Sebuah televisi kecil dinyalakan dari mesin genzet tepat di tengah-tengah bengkel. Bapak dan remaja itu menonton stasiun televisi program Breaking News tentang Gempa Bumi sore tadi. Stefan dan York memarkir motor dan ikut menonton bersama mereka. Dari potret berita yang penuh tangisan histeris, akhirnya Stefan dan York tahu mengapa bengkel-bengkel tutup malam ini. Mereka tak berpikir lagi untuk menempel ban dan ikhlas menghabiskan malam mereka di bengkel ketujuh ini.
Padang, 16 Aktober 2009

0 komentar: