Opinion
OPINIATOR
/ THE PHILOSOPHIA
Siapa Syiah ?
By
THAUFAN MALAKA
Published:
January 05, 2012
Tulisan
singkat ini ditulis untuk menengahi mispersepsi berujung konflik antara
Syiah-Sunni di Madura baru-baru ini yang kami baca melalui media online. Juga
sebagai rasa cemburu dengan kedamaian di Jepang, sebuah negara yang
memperlakukan agama hanya sebagai moral dan budaya saja, tetapi damai dan
sejahtera.
Tak perlu
takut dengan Syiah dan jika anda punya waktu, sebaiknya baca referensi Syiah
yang benar. Siapa Syiah ? Saya sesungguhnya bukan manusia yang tepat untuk
menjelaskan Syiah sebab saya lahir dan belajar Islam sejak kecil dalam tradisi
Syafii berteologi Asyari-Maturidi. Namun, sebagai wartawan filsafat, saya
terpanggil untuk memberitakan dan mewacanakan Syiah, sejauh ingatan saya,
sebagai korban di Madura. Syiah lebih lazim dikenal sebagai Ahlulbait mengacu kepada
Supremasi Keluarga Rasulullah Muhammad SAAW yang meyakini Islam dari perspektif
Tauhid, Keadilan Allah, Kenabian, Kepemimpinan dan Hari Akhir.
Sejatinya,
Syiah hanyalah perspektif dalam mengenali kejernihan Islam di antara beberapa
perspektif lain misalnya 6 mazhab lain yaitu Syafii, Maliki, Hambali, Hanafi,
Ibadi, dan Zahiri yang diendors dalam Deklarasi
Amman (The Amman Message) oleh pemimpin mazhab dan politik dari
berbagai belahan bumi. Namun, politisasi agama dan kejumudan berfikir dalam
menganut Islam memantik cara ber-Islam yang biadab dan emosional sehingga
menjadikan penganut Syiah sebagai korban kekerasan massa yang belum tentu
meyakini apa yang mereka telah perbuat kepada sesamanya.
Pandangan
kami hanya dangkal sebagai pembaca beberapa literatur asli Syiah dan pernah
berdialog dengan salah seorang penganut Syiah dari Iran. Syiah adalah perspektif Islam yang dinamis,
rasional dan politis. Dinamis dalam arti Syiah masih membuka pintu Ijtihad
(bagi yang berhak berijtihad) dan sangat ketat dalam memegang prinsip Fikih
Islam. Dinamika ini membuat Syiah mampu melahirkan pakar-pakar Islam dari model
pendidikan unik-tradisional-modern di berbagai bidang misalnya Filsafat,
Teologi, Fikih, Hadis, dan Tafsir di zaman sekarang. Silakan anda berkunjung ke
salah satu kota bernama Qom di Iran maka anda akan mendapatkan ratusan bahkan
mungkin ribuan pakar dan calon pakar di bidang keilmuan Islam. Revolusi
Islam di Iran oleh Pemimpin Kharismatik Ayatullah Ruhullah Khomeini hanyalah
memantapkan Syiah di pentas politik modern, tetapi tradisi keilmuan Syiah sudah
terbangun sejak berabad-abad yang silam.
Rasional artinya
Syiah dalam memahami Islam sangat memuliakan akal sebagaimana akal dalam
perspektif para filsuf Islam misalnya Alkindi, Alfarabi, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina
di mana akal adalah cahaya yang menerangi kegelapan. Sebagai misal, Syiah dalam
memahami hukum Islam di zaman modern, para ahli hukum Islamnya yang dikenal
sebagai Marja' menetapkan hukum secara rasional didasarkan Ilmu Keislaman
yang luas yang dipelajarinya hampir di sepanjang hidupnya.
Politis
maksudnya Syiah sangat menyadari nalar sejarah manusia sebagai pentas politik
antara Kebenaran (Alhaq) versus Kebatilan (Albatil) sehingga
penganut Syiah memperjelas posisi Ke-Islamannya di pihak kebenaran untuk
melawan Kebatilan dan variannya. Dalam tiga dimensi ini, Syiah akan diterima
oleh manusia hanif manapun dari perspektif Islam apapun.
Lha,
kenapa Syiah di Indonesia dibenci dan dianggap sesat bahkan di Madura baru-baru
ini salah satu pesantren Syiah dibakar ? Pertanyaan ini bisa dijawab begini: pertama,
Syiah itu punya nalar yang dinamis yang berbeda dengan nalar kebanyakan
muslim Indonesia yang beraliran fikih syafi'i berteologi Asy'ari-Maturidi. Jika
ada muslim Syafi'i berteologi Asy'ari-Maturidi yang reformis-kritis berarti
mereka generasi protestan muslim di Indonesia. Mereka boleh jadi membaca
Filsafat Barat ala Marx-Foucault, menelaah pemikiran Islam kontemporer ala Abid
Al Jabiri, Arkoun, Hassan Hanafi dll, atau bergabung dengan Gerakan Islam
Internasional misalnya Ikhwanulmuslimin
yang menjelmakan PKS/KAMMI atau
Hizbuttahrir. Kedua, Syiah
itu Rasional yang meninjau ulang asumsi-asumsi kebenaran teori Ke-Islaman.
Asumsi ini pula meniscayakan Syiah menjadikan Keluarga Nabi (Ahlulbait) sebagai
pemegang titah Islam absolut. Tentu saja, Islam itu Kebanaran yang
Absolut secara doktrinal tetapi cara memahami Islam sangat relatif bagi muslim
umumnya sehingga meniscayakan adanya Nabi
(Kenabian) dan adanya Pemimpin
Suci (Imamah) untuk menjelaskan absolutisme Islam. Misalnya kebenaran
Islam yang sejati harus diterima dari tangan yang suci sebab jika diterima dari
tangan yang munafik walaupun hanya sebesar zarrah maka kebenaran Islam
diragukan. Ketiga, Syiah itu politis sehingga setiap kebatilan dalam
semua wajahnya, apakah dalam bentuk manusia atau cara pandang yang zalim akan
menjadi musuhnya. Simbol tertinggi politik Syiah adalah Kesyahidan Imam Hussein (Cucu Nabi anak Ali-Fatimah yang
menjadi Imam ke-4 dalam perspektif Syiah) yang menjemput kematiannya untuk
menegakkan kebenaran hakiki dalam politik di sepanjang sejarah manusia di muka
bumi. Keempat, Konflik Syiah-Sunni di Indonesia bisa dijelaskan sebagai
kompetisi ekonomi-politik untuk memperebutkan supremasi simbol, sumber daya
politik dan ekonomi. Jadi, isu kebenaran itu nomor dua. Tak lebih tak kurang.
Akhirnya,
mari kita menjaga silaturahim perspektif Ke-Islaman. Tak usah resah dengan
perspektif Islam yang beragam, justru itu adalah kekuatan Islam sebagai mata
air pengetahuan dan kebijaksanaan hidup.
Ditulis di Jepang 05 Januari 2012
0 komentar:
Poskan Komentar