04 Januari 2012

Siapa Syiah ?

Opinion
OPINIATOR / THE PHILOSOPHIA
Siapa Syiah ?
By THAUFAN MALAKA
Published: January 05, 2012
Tulisan singkat ini ditulis untuk menengahi mispersepsi berujung konflik antara Syiah-Sunni di Madura baru-baru ini yang kami baca melalui media online. Juga sebagai rasa cemburu dengan kedamaian di Jepang, sebuah negara yang memperlakukan agama hanya sebagai moral dan budaya saja, tetapi damai dan sejahtera.
Tak perlu takut dengan Syiah dan jika anda punya waktu, sebaiknya baca referensi Syiah yang benar. Siapa Syiah ? Saya sesungguhnya bukan manusia yang tepat untuk menjelaskan Syiah sebab saya lahir dan belajar Islam sejak kecil dalam tradisi Syafii berteologi Asyari-Maturidi. Namun, sebagai wartawan filsafat, saya terpanggil untuk memberitakan dan mewacanakan Syiah, sejauh ingatan saya, sebagai korban di Madura. Syiah lebih lazim dikenal sebagai Ahlulbait mengacu kepada Supremasi Keluarga Rasulullah Muhammad SAAW yang meyakini Islam dari perspektif Tauhid, Keadilan Allah, Kenabian, Kepemimpinan dan Hari Akhir.
Sejatinya, Syiah hanyalah perspektif dalam mengenali kejernihan Islam di antara beberapa perspektif lain misalnya 6 mazhab lain yaitu Syafii, Maliki, Hambali, Hanafi, Ibadi, dan Zahiri yang diendors dalam Deklarasi Amman (The Amman Message)  oleh pemimpin mazhab dan politik dari berbagai belahan bumi. Namun, politisasi agama dan kejumudan berfikir dalam menganut Islam memantik cara ber-Islam yang biadab dan emosional sehingga menjadikan penganut Syiah sebagai korban kekerasan massa yang belum tentu meyakini apa yang mereka telah perbuat kepada sesamanya.
Pandangan kami hanya dangkal sebagai pembaca beberapa literatur asli Syiah dan pernah berdialog dengan salah seorang penganut Syiah dari Iran.  Syiah adalah perspektif Islam yang dinamis, rasional dan politis. Dinamis dalam arti Syiah masih membuka pintu Ijtihad (bagi yang berhak berijtihad) dan sangat ketat dalam memegang prinsip Fikih Islam. Dinamika ini membuat Syiah mampu melahirkan pakar-pakar Islam dari model pendidikan unik-tradisional-modern di berbagai bidang misalnya Filsafat, Teologi, Fikih, Hadis, dan Tafsir di zaman sekarang. Silakan anda berkunjung ke salah satu kota bernama Qom di Iran maka anda akan mendapatkan ratusan bahkan mungkin ribuan pakar dan calon pakar di bidang keilmuan Islam. Revolusi Islam di Iran oleh Pemimpin Kharismatik Ayatullah Ruhullah Khomeini hanyalah memantapkan Syiah di pentas politik modern, tetapi tradisi keilmuan Syiah sudah terbangun sejak berabad-abad yang silam.
Rasional artinya Syiah dalam memahami Islam sangat memuliakan akal sebagaimana akal dalam perspektif para filsuf Islam misalnya Alkindi, Alfarabi, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina di mana akal adalah cahaya yang menerangi kegelapan. Sebagai misal, Syiah dalam memahami hukum Islam di zaman modern, para ahli hukum Islamnya yang dikenal sebagai Marja'  menetapkan hukum secara rasional didasarkan Ilmu Keislaman yang luas yang dipelajarinya hampir di sepanjang hidupnya.
Politis maksudnya Syiah sangat menyadari nalar sejarah manusia sebagai pentas politik antara Kebenaran (Alhaq) versus Kebatilan (Albatil) sehingga penganut Syiah memperjelas posisi Ke-Islamannya di pihak kebenaran untuk melawan Kebatilan dan variannya. Dalam tiga dimensi ini, Syiah akan diterima oleh manusia hanif manapun dari perspektif Islam apapun.
Lha, kenapa Syiah di Indonesia dibenci dan dianggap sesat bahkan di Madura baru-baru ini salah satu pesantren Syiah dibakar ? Pertanyaan ini bisa dijawab begini: pertama, Syiah itu punya nalar yang dinamis yang berbeda dengan nalar kebanyakan muslim Indonesia yang beraliran fikih syafi'i berteologi Asy'ari-Maturidi. Jika ada muslim Syafi'i berteologi Asy'ari-Maturidi yang reformis-kritis berarti mereka generasi protestan muslim di Indonesia. Mereka boleh jadi membaca Filsafat Barat ala Marx-Foucault, menelaah pemikiran Islam kontemporer ala Abid Al Jabiri, Arkoun, Hassan Hanafi dll, atau bergabung dengan Gerakan Islam Internasional misalnya Ikhwanulmuslimin yang menjelmakan PKS/KAMMI atau Hizbuttahrir. Kedua, Syiah itu Rasional yang meninjau ulang asumsi-asumsi kebenaran teori Ke-Islaman. Asumsi ini pula meniscayakan Syiah menjadikan Keluarga Nabi (Ahlulbait) sebagai pemegang titah Islam absolut. Tentu saja,  Islam itu Kebanaran yang Absolut secara doktrinal tetapi cara memahami Islam sangat relatif bagi muslim umumnya sehingga meniscayakan adanya Nabi (Kenabian) dan adanya Pemimpin Suci (Imamah) untuk menjelaskan absolutisme Islam. Misalnya kebenaran Islam yang sejati harus diterima dari tangan yang suci sebab jika diterima dari tangan yang munafik walaupun hanya sebesar zarrah maka kebenaran Islam diragukan. Ketiga, Syiah itu politis sehingga setiap kebatilan dalam semua wajahnya, apakah dalam bentuk manusia atau cara pandang yang zalim akan menjadi musuhnya. Simbol tertinggi politik Syiah adalah Kesyahidan Imam Hussein (Cucu Nabi anak Ali-Fatimah yang menjadi Imam ke-4 dalam perspektif Syiah) yang menjemput kematiannya untuk menegakkan kebenaran hakiki dalam politik di sepanjang sejarah manusia di muka bumi. Keempat, Konflik Syiah-Sunni di Indonesia bisa dijelaskan sebagai kompetisi ekonomi-politik untuk memperebutkan supremasi simbol, sumber daya politik dan ekonomi. Jadi, isu kebenaran itu nomor dua. Tak lebih tak kurang.
Akhirnya, mari kita menjaga silaturahim perspektif Ke-Islaman. Tak usah resah dengan perspektif Islam yang beragam, justru itu adalah kekuatan Islam sebagai mata air pengetahuan dan kebijaksanaan hidup.
Ditulis di Jepang 05 Januari 2012

0 komentar: